Dari Tasikmalaya untuk Pangandaran: Inovasi Pengering Hybrid Cetak Revolusi Efisiensi bagi Pelaku UMKM Kerupuk Rumput Laut
Tasikmalaya- Sebuah terobosan inovasi teknologi tepat guna lahir dari kepakaran dan dedikasi para dosen Universitas Bakti Tunas Husada (BTH) Tasikmalaya. Berkomitmen untuk langsung menyentuh akar permasalahan di masyarakat, tim dosen berhasil mengimplementasikan teknologi pengering hybrid hybrid solar dryer yang menjadi solusi cerdas bagi peningkatan produktivitas usaha kerupuk rumput laut di Desa Bagolo, Kabupaten Pangandaran.

Baca Juga : Kampung Siluman, Saksi Bisu Perlawanan Rakyat Tasikmalaya
Program strategis ini merupakan bentuk nyata Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang diketuai oleh Hadi Yusuf Faturochman, ST., M.Si., dengan didukung oleh anggota tim yang berkompeten, yaitu Pandu Legawa Ismaya, ST., M.Si., dan Sudianto, M.Kom.. Kegiatan ini juga menjadi wadah pembelajaran aplikatif bagi mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan dan Bisnis Digital, yaitu Nirmala, Suci, Nursafa, dan M. Fuzi, yang turut serta dalam proyek pemberdayaan ini. Keberlangsungan program ini didukung penuh oleh Hibah PPM Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun 2025 dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Melampaui Ketergantungan pada Cuaca: Sebuah Solusi Hybrid
Inti dari program ini adalah penerapan alat pengering berteknologi hybrid yang canggih.
“Esensi dari teknologi ini adalah membebaskan ketergantungan para perajin pada cuaca,” jelas Hadi Yusuf Faturochman via WhatsApp. “Selama ini, proses pengeringan rumput laut yang mengandalkan sinar matahari langsung sangat rentan terhadap hujan dan musim kemarau yang tidak menentu. Akibatnya, produk seringkali lembab, berjamur, atau proses produksi terhambat berhari-hari.”
Dengan sistem hybrid, lanjut Hadi, timnya tidak hanya memangkas waktu pengeringan secara drastis, tetapi juga konsisten menjaga kualitas dan higienitas produk. “*Yang awalnya bisa memakan waktu 2-3 hari, kini dengan teknologi ini, rumput laut kering sempurna hanya dalam waktu 4 hingga 5 jam saja. Kualitasnya pun lebih seragam dan terjamin kebersihannya,*” tambahnya.
Proses Pemberdayaan yang Menyeluruh dan Berkelanjutan
Inovasi tidak akan berarti tanpa transfer pengetahuan yang efektif. Penerapan teknologi ini dilakukan melalui kemitraan dengan UMKM Winanaz, yang diketuai oleh Ibu Dian Haryani dengan melibatkan 11 anggotanya. Tim PKM tidak sekadar “menyerahkan” alat, tetapi mendampingi mitra UMKM melalui rangkaian kegiatan yang komprehensif, dimulai dari:
-
Sosialisasi, untuk memperkenalkan konsep dan manfaat teknologi.
-
Pelatihan Operasional, memastikan mitra dapat mengoperasikan dan merawat alat dengan benar.
-
Pendampingan Langsung, mempraktikkan penggunaan alat dalam proses produksi sesungguhnya.
-
Evaluasi Bersama, untuk menyempurnakan proses dan mengukur peningkatan yang dicapai.
Dampak Nyata: Efisiensi, Kualitas, dan Peningkatan Ekonomi
Respon dari mitra UMKM sangat positif. Ibu Dian Haryani, Ketua UMKM Winanaz, menyampaikan apresiasi yang mendalam.
“Kami sungguh terbantu dengan kehadiran tim dan teknologi dari Universitas BTH Tasikmalaya. Dampaknya langsung terasa: biaya produksi lebih efisien, kapasitas produksi kami meningkat signifikan, dan yang paling penting, kualitas kerupuk rumput laut yang kami hasilkan menjadi jauh lebih baik, lebih kering, dan lebih renyah. Ini membuat kami lebih percaya diri untuk memenuhi permintaan pasar yang semakin berkembang,” ujar Dian dengan penuh semangat.
Masa Depan yang Lebih Cerah untuk Produk Lokal
Harapan ke depan dari inovasi ini sangat besar. Hadi dan tim berkomitmen untuk terus memantau perkembangan UMKM Winanaz.
“Pada akhirnya, tujuan kami adalah memperkuat rantai nilai produk lokal. Dengan meningkatkan produktivitas dan kualitas, daya saing produk UMKM lokal di pasar yang lebih luas juga akan ikut terdongkrak. Ini adalah kontribusi nyata kami untuk mendorong pertumbuhan perekonomian masyarakat pesisir yang lebih mandiri dan berkelanjutan,” pungkas Hadi menutup pembicaraan