Banjir Melanda Tasikmalaya, Rumah Warga Terendam, Jalan Utama Lumpuh Akibat Hujan Esktrem
Tasikmalaya- kembali berduka. Hujan deras dengan intensitas tinggi yang tak henti mengguyur sejak Senin (tanggal/bulan bisa disisipkan) sore hingga larut malam, berubah menjadi bencana yang menerjang berbagai sudut kota. Bukannya membawa kesejukan, hujan ini justru memicu banjir yang merendam permukiman padat penduduk, melumpuhkan jalan-jalan protokol, dan menghentikan aktivitas warga dalam sekejap. Genangan air yang dalam beberapa titik mencapai ketinggian 50 sentimeter, menyapu area pesawahan, kolam ikan, dan tak terkecuali puluhan rumah warga.

Baca Juga : Ribuan Warga Tasikmalaya Terisolasi Pasca Tanah Longsor Tutup Jalan Utama
Dua Kampung di Ujung Tanduk, Air Masuk hingga ke Dalam Rumah
Banjir ini tidak datang secara merata. Dua lokasi permukiman disebut-sebut menjadi yang terparah terdampak. Laporan pertama datang dari Jalan Aboh, di Kampung Babakan Hanjuang, Desa Sukamulya, Kecamatan Bungursari. Di sini, air bukan hanya menggenangi jalan, tetapi dengan cepat menerobos masuk ke dalam rumah-rumah warga, merendam perabotan, perlengkapan sehari-hari, dan meninggalkan lumpur serta kotoran.
Nasib serupa dialami oleh warga di Jalan Ampera, tepatnya di RT 001 RW 003, Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes. Lima unit rumah kontrakan yang berjejer di dekat aliran Sungai Cimulu menjadi sasaran empuk luapan air. Dalam hitungan menit, rumah-rumah itu berubah menjadi kolam, dengan ketinggian air hampir setengah meter.
Respon Cepat Darurat dan Tragedi Rumah Ambruk
Menyikapi kejadian ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya langsung bergerak cepat. Koordinator URC BPBD, Harisman, menjelaskan bahwa timnya segera turun ke lapangan untuk melakukan asesmen dan evakuasi.
“Kami sudah berada di lokasi untuk melakukan penanganan darurat. Di Kampung Hanjuang, selain evakuasi, tim juga melakukan penyedotan air untuk mencegah genangan kembali masuk ke dalam rumah warga,” ujar Harisman saat dikonfirmasi.
Namun, di balik kerugian material, sebuah tragedi sempat menyelimuti duka Tasikmalaya malam itu. Dilaporkan, satu bangunan rumah tidak mampu menahan gempuran air dan ambruk, menimpa dua orang penghuninya. Berkat koordinasi yang solid antara petugas gabungan BPBD, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), serta aparat setempat, proses evakuasi dan pengamanan lokasi dapat dilakukan dengan sigap.
Jalan-Jalan Protokol Lumpuh, Arus Lalu Lintas Tersendat
Dampak banjir tidak berhenti di permukiman. Sejumlah ruas jalan vital yang menjadi urat nadi perekonomian dan mobilitas warga Kota Tasikmalaya juga tak luput dari terjangan air. Jalan R.E. Martadinata, Jalan Cipari, Jalan Letnan Harun, hingga Jalan Cempaka Laksana, semuanya terendam, mengubahnya menjadi sungai-sungai beton. Kendaraan roda dua terpaksa menepi, sementara mobil yang nekat menerobos harus bersiap dengan konsekuensi mesin mogok. Kemacetan panjang pun tidak terelakkan, mengganggu aktivitas ribuan warga.
Akar Masalah: Drainase Tersumbat dan Sungai yang Mendangkal
Intensitas hujan yang sangat tinggi dalam durasi panjang menyebabkan debit air di sungai-sungai melonjak drastis dan akhirnya meluap. Namun, masalah klasik kembali menjadi biang kerok yang memperparah keadaan: sampah yang menyumbat saluran drainase.
“Kami menemukan banyak saluran drainase yang tertutup oleh sampah. Faktor inilah yang membuat air dari hujan tidak memiliki jalur keluar, akhirnya meluber ke jalan dan masuk ke rumah-rumah warga,” tegas Harisman, menambahkan bahwa kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan masih perlu ditingkatkan.
Pendapat senada datang dari tokoh masyarakat setempat. Jaenal Koswara, Ketua RW 03 Jalan Ampera, dengan tegas menyoroti masalah mendasar: pendangkalan Sungai Cimulu.
“Sungai Cimulu sudah sangat dangkal. Kapasitasnya tidak lagi mampu menampung volume air hujan yang besar. Kami sudah sering menyuarakan ini, dan kami sangat berharap pemerintah segera melakukan pengerukan (normalisasi) agar sungai bisa berfungsi normal,” tutur Jaenal, dengan suara yang penuh harap.
Kesaksian Warga: “Banjir Terparah dalam Beberapa Tahun Terakhir”
Kepanikan dan ketakutan masih terasa dalam cerita Rizal Jalaludin, seorang warga Kampung Hanjuang yang rumahnya terendam. Ia menggambarkan betapa cepatnya banjir ini datang, jauh lebih cepat dari kejadian-kejadian sebelumnya.
“Ini banjir yang paling parah dalam beberapa tahun terakhir. Biasanya tidak separah ini. Tadi malam, hanya dalam waktu 15 menit setelah hujan deras, kolam ikan di belakang rumah langsung meluap dan air seperti gelombang kecil masuk ke dalam rumah kami. Kami hampir tidak punya waktu untuk menyelamatkan barang-barang,” kenang Rizal, sambil memperlihatkan sisa-sisa genangan di lantai rumahnya.
Komitmen Pemerintah: Normalisasi Sungai dan Perbaikan Drainase Jadi Prioritas
Merespon musibah ini, Pemerintah Kota Tasikmalaya melalui BPBD menegaskan komitmennya untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
“Kami akan memperkuat koordinasi dengan semua dinas terkait. Langkah antisipasi yang akan kami prioritaskan adalah normalisasi sungai-sungai yang rawan, terutama Cimulu, memperbaiki dan meningkatkan kapasitas jaringan drainase kota, serta yang tidak kalah penting adalah edukasi berkelanjutan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan saluran air dari sampah,” pungkas perwakilan BPBD.





