Kegiatan Makan Bergizi Berujung Petaka: Puluhan Siswa SD di Ciamis Keracunan, Menu Diduga Pemicunya!
Tasikmalaya– Sebuah insiden yang mencemaskan kembali menerpa program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Ciamis. Kali ini, puluhan siswa Sekolah Dasar Negeri SDN 1 Sindangsari, Kecamatan Kawali, harus merasakan pahitnya keracunan makanan usai menyantap hidangan yang seharusnya menyehatkan. Bukannya mendapat energi, mereka justru harus dilarikan dengan tergopoh-gopoh ke Puskesmas Kawali untuk mendapatkan pertolongan medis.

Baca Juga : Praktik Busuk Di Balik Pupuk Subsidi Ketahanan Pangan Dikorupsi Di Tasikmalaya
Kronologi insiden ini diungkapkan oleh salah satu korban, Dimas (11), seorang siswa kelas V yang dengan lugas menceritakan kecurigaannya terhadap makanan yang disajikan hari itu.
“Dari awal lihat pudingnya sudah tidak seperti biasa. Warnanya agak aneh dan baunya juga tidak enak,” ujar Dimas, menirukan nada khawatirnya. “Kacang ijonya juga rasanya tidak karuan, apalagi santannya, tidak seputih dan segar yang biasanya kami makan.”
Rasa tidak nyaman mulai dirasakan Dimas tak lama setelah ia mencicipi bubur kacang hijau dan roti keju yang menjadi menu hari itu. “Perut langsung mual, kepala terasa pusing sekali. Aku lihat teman-teman yang lain juga mulai mengeluh hal yang sama,” kenangnya. “Semakin lama, semakin banyak yang mengeluh pusing. Bukan cuma dari kelasku (Kelas 5), tapi dari Kelas 6 juga ada beberapa.”
Keadaan Dimas pun memburuk. Ia menggambarkan detik-detik menegangkan dimana tubuhnya lemas tak bertenaga
“Sampai tidak kuat untuk duduk tegak. Aku akhirnya bersandar ke kursi teman di sebelah. Pandangan berkunang-kunang, rasanya seperti mau pingsan,” tuturnya lega karena para guru sigap membawanya ke UKS untuk pemeriksaan pertama.
Namun, Dimas bukanlah satu-satunya yang mengalami nasib serupa. Ia menyebutkan bahwa setidaknya lebih dari sepuluh orang temannya menunjukkan gejala keracunan yang lebih parah. “Ada yang sampai muntah-muntah berulang kali. Suasana jadi panik,” ungkapnya.
Insiden ini telah dikonfirmasi oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Ciamis, dr. Rizali. Dalam pernyataannya, dr. Rizali menyampaikan bahwa sebanyak 10 anak harus dibawa untuk mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Kawali.
Alhamdulillah, dari sepuluh anak tersebut, dua di antaranya sudah diperbolehkan pulang
Delapan lainnya masih kami pantau terus kondisinya, dan semuanya menunjukkan tren perbaikan yang signifikan, jelas dr. Rizali, mencoba menenangkan situasi.
Menu yang diduga menjadi biang keladi keracunan massal ini terdiri dari bubur kacang hijau, roti keju, serta puding atau jelly santan. Sebagai langkah antisipatif dan investigatif, Tim Dinkes Ciamis telah bergerak cepat dengan mengamankan sampel makanan yang tersisa untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
“Kami telah mengambil sampel menu-menu yang disajikan. Sampel ini akan kami uji di laboratorium untuk mengetahui penyebab pastinya,” terang dr. Rizali. “Untuk uji bakteriologis, seperti pemeriksaan ada tidaknya bakteri E.coli atau Salmonella, biasanya membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Sedangkan uji kimia untuk mendeteksi adanya zat berbahaya bisa memberikan hasil yang lebih cepat.”
Meski penyebab pasti masih menunggu hasil investigasi laboratorium, dr. Rizali menegaskan komitmennya untuk terus memantau kesehatan para korban. “Prioritas kami saat ini adalah keselamatan dan pemulihan anak-anak. Kami berharap dan berdoa agar kejadian ini tidak meluas dan semua korban dapat segera pulih sepenuhnya,” ujarnya.
Sayangnya, ini bukanlah catatan pertama program MBG di Ciamis berujung pada kasus keracunan. Insiden berulang ini tentu menyisakan tanda tanya besar dan kekhawatiran mendalam bagi semua pihak, terutama orang tua murid.
“Kami memohon dengan sangat kepada pemerintah daerah dan pihak terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program MBG,” tutur salah satu orang tua murid yang enggan disebutkan namanya. “Mulai dari pemilihan vendor, proses pengolahan, standar kebersihan, hingga penyimpanan bahan makanan. Jangan sampai niat baik untuk memberikan gizi, justru menjadi bencana bagi anak-anak kami.”
Harapan yang sama juga disampaikan oleh pihak sekolah, yang berharap insiden memilukan ini menjadi momentum perbaikan sistem, agar setiap suapan yang diterima oleh siswa-siswa penerima MBG benar-benar aman, bergizi, dan membawa kebaikan, bukan malapetaka.





