Beras Organik Tasikmalaya Melangkah Percaya Diri, Bidik Pasar Eropa
Tasikmalaya- Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, semakin menunjukkan taringnya sebagai salah satu lumbung pangan organik terdepan di Indonesia. Geliat optimisme terpancar jelas dari sektor pertaniannya, yang baru saja menuai hasil menggembirakan dari panen raya padi organik. Capaian produksi yang luar biasa, yakni melonjak hingga 5 ton beras organik yang siap dipasarkan, menjadi bukti nyata keseriusan dan potensi besar yang dimiliki daerah ini.

Baca Juga : Siswa SMP Tasikmalaya Dianugerahi Penghargaan PT KAI Atas Tindakan Cepat Selamatkan Perjalanan Kereta Api
Melampaui rata-rata produksi bulanan yang biasanya berada di angka 1,8 ton, lonjakan hasil panen ini memicu semangat baru bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan para petani. “Ini adalah pencapaian yang membanggakan. Rata-rata produksi beras organik kami memang konsisten di 1,8 ton per bulan, tetapi panen terkini benar-benar di luar ekspektasi, menghasilkan stok siap jual hingga 5 ton,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tasikmalaya, Tatang Wahyudin, dengan penuh antusias.
Dari Lahan ke Pasar: Tantangan dan Strategi
Dengan stok melimpah, fokus utama Pemkab kini beralih kepada pencarian pasar yang tepat. Tantangan ini dijawab dengan strategi yang inovatif dan realistis. Salah satu pasar potensial yang sedang digarap adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. “Segmen dan permintaan pasar untuk beras organik sangat bagus. Kami sangat bersemangat untuk memasarkannya. Harapan kami, ke depan kami bisa memasok kebutuhan beras organik untuk ASN se-Jawa Barat,” jelas Tatang.
Namun, di balik optimisme itu, terdapat sejumlah tantangan klasik yang harus dihadapi. Tatang menyoroti bahwa kendala terbesar bukanlah pada teknik bercocok tanam, melainkan pada perubahan pola pikir dan kebiasaan petani. Beralih dari pertanian konvensional ke organik membutuhkan komitmen, kesabaran, dan usaha ekstra. “Diperlukan upaya serentak untuk mengubah sikap dan pola tanam petani. Mereka masih sangat sulit karena masa tanam padi organik lebih panjang dan prosesnya lebih ketat,” paparnya.
Kendala lain adalah keterbatasan lahan bersertifikat organik. Dari total sekitar 500 hektar lahan padi organik yang ada, proses sertifikasi ulang menghasilkan fakta bahwa baru 200 hektar lebih yang benar-benar terverifikasi keorganikannya. Saat ini, sentra produksi terbesar masih terkonsentrasi di Kecamatan Cipatujah, daerah pesisir selatan Tasikmalaya. Namun, upaya ekspansi sudah dimulai. “Kami sedang menggarap 600 hektar lahan potensial di Tasikmalaya Utara untuk memperluas areal tanam organik,” tambah Tatang.
Dukungan Penuh dan Visi Global
Di sisi kebijakan dan pendanaan, dukungan penuh diberikan oleh Pemkab. Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al Ayubi, mengabarkan kabar gembira terkait disetujuinya dana talangan untuk program Upland (Upgrading Agriculture Sector) yang dibiayai oleh Islamic Development Bank (IDB). “Komitmen kami kuat. Bersama Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan, kami diminta untuk menyetujui dana talangan ini. Pemerintah harus menyiapkan dannya terlebih dahulu dan pekerjaan di lapangan harus segera dimulai,” terang Asep.
Beliau juga memastikan bahwa stok 5 ton beras organik hasil panen raya telah mulai menemukan pasarnya. “Alhamdulillah, produk padi organik kita sudah panen dan stok 5 ton tersebut sudah mulai terserap dengan baik, baik di pasar lokal Tasikmalaya maupun di pasar Kota Bandung,” kata Asep.
Untuk mengantisipasi hasil panen yang lebih melimpah di masa depan, Pemkab Tasikmalaya tidak setengah-setengah. Rencana strategis sedang dirancang, termasuk menjalin kerja sama dengan PD Jaya di Jakarta untuk memperluas jaringan distribusi hingga ke ibu kota. Langkah ini memperkuat sinyal bahwa Tasikmalaya serius menjadikan pertanian organik sebagai tulang punggung ekonomi daerah.
Visi jangka panjangnya bahkan lebih ambisius. “Upaya keras kami telah direspon positif oleh Pemerintah Pusat. Dengan komitmen bersama dalam sertifikasi dan perubahan pola tanam, kami berharap dan berdoa, suatu saat nanti beras organik ‘Tasik’ bisa menembus pasar Asia dan Eropa,” pungkas Asep Sopari dengan penuh keyakinan. Sebuah cita-cita yang, dengan kerja nyata, bukan mustahil untuk diwujudkan dari sawah-sawah hijau Tasikmalaya.





